Rumah kediaman orang tua Zahrul Rabain di desa Sungai Pinang Hulu Kuantan. ( ktc )

Sisi kehidupan Hakim Agung Asal Zahrul Rabain, Tinggal di Mesjid Demi Ingin Menamatkan Kuliah.

Kamis,25 September 2013 - 08:38:00 WIB
Share Tweet Google + Cetak


TELUK KUANTAN- Sosok, Zahrul Rabain tentu saja bukan nama baru di Provinsi Riau. Namanya sudah harum sejak berkarir di Pengadilan Negeri Bukit Tinggi pada tahun 1983 lampau. Ketika ditarik ke Pengadilan Negeri Takengon Aceh tahun1985 lalu, karir kepegawaiannya pun terus menanjak. Berbagai posisi penting pernah didudukinya, seperti Ketua Pengadilan Negeri Jambi tahun 1996, Ketua Pengadilan Negeri Klas IA Bangko tahun 2000 dan Ketua Pengadilan Negeri Klas IA Pekanbaru tahun 2004.

Karir suami dari Hj. Arminiwati ini tidak hanya sampai disitu saja, Pada tahun 2007 Ia dipercaya memimpin Pengadilan Negeri Klas IA Khusus Jakarta Selatan, Lalu pada tahun 2009 ayahanda dari Ahmad Fadil, SH ini harus rela terbang ke Makasar untuk melaksanakan tugas mulianya sebagai hakim di pengadilan tinggi di Kampung halaman mantan Wakil Presiden Yusuf Kalla itu.

Hakim peraih pemghargaan karya ini lalu kembali ditugaskan di Jakarta, pada tahun 2011 Ia mengemban tugas sebagai Hakim di Pengadilan Tinggi Jakarta.

Sebagai pejabat negara di Institusi Pengadilan demi menjalankan amanah Ia harus rela ditempatkan dimana saja, pada tahun 2012 Ia kembali hijrah ke Sulawesi tepatnya di Gorontalo, disana ayah 4 orang anak ini menjabat sebagai Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Gorontalo.

Berangkat dari sifat kesederhanaan dan kejujuran yang ditanamkan oleh kedua orang tuanya sedari kecil, anak dari H.Rabain S Dt, Tankayo dan Hj.Sami'ah ini akhirnya dipercaya oleh Rakyat Indonesia melalui Pemilihan langsung di Komisi III DPR-RI pada hari Senin malam (23/9/13) menjabat sebagai Hakim Agung di Negara tercinta ini.

Dibalik kesuksesan Zahrul Rabain sebagai Hakim yang paling diandalkan di Mahkamah Agung ini, ternyata tidak seindah yang kita bayangkan. Seperti diceritakan adik Kandung Zahrul, Drs Maswardi kepada wartawan  Selasa (24/9), Sekelumit cerita panjang tentang perjuangan nya demi untuk meraih karir pemuncak, berbagai halangan dan rintangan Ia lalui demi menamatkan pendidikan, karena memang Hakim Agung ini bukanlah dari golongan keluarga kaya, Ia hanyalah seorang anak petani karet dari sebuah kampung yang jauh dari kemajuan zaman semasa itu.

Zahrul Rabain, lahir di Desa Sungai Pinang, Kecamatan Hulu Kuantan (dulu Kecamatan Kuantan Mudik), Kabupaten Kuansing, Riau pada Tanggal 24 April 1953 lalu. Setelah menamatkan pendidikan dasar di SD Sungai Pinang pada tahun 1996, Ia harus rela merantau dan meninggalkan sanak keluarga dan kedua orang tua, Ia melanjutkan pendidikan di PGAN 6 Tahun di Padang Panjang Sumbar dan Tamat pada tahun 1972.

Berangkat dari kemauan yang kuat, tanpa ditopang oleh ekonomi yang mapan, bukanlah jadi penghalang bagi Zahrul Rabain untuk melanjutkan pendidikan demi mencapai cita-cita yang telah tertanam dibenaknya.

Lalu pada tahun 1981 Zahrul melanjutkan pendidikan, Universitas STIH Muhamadiyah Bukit Tinggi, Sumbar menjadi pilihan nya, situ Zahrul Mengambil Ilmu Hukum. Zahrul kembali berjuang menghadapi kerasnya kehidupan demi mendapatkan sesuap nasi, tidak hanya itu Ia harus berjibaku dengan waktu supaya dapur tetap ngepul dan pelajaran tetap jalan.

Sebagai orang Kuantan yang dikenal dengan adat istiadat dan Ilmu agama yang sudah ditanamkan dari semasa kecil dikampung halaman, Zahrul kerap diundang oleh masyarakat Bukit Tinggi untuk memberikan pengajian dan ceramah agama dari Mesjid ke Mesjid, sehingga Ia memutuskan untuk tinggal di Mesjid selama Ia menempuh pendidikan fakultas hukum tersebut.

Mesjid Almubarak yang berlokasi tidak jauh dari Stasiun kereta Api Bukit Tinggi, disanalah tempat Zahrul berlindung, Ia melalui hari-harinya diMesjid itu sebagai pegawai penjaga Mesjid.( isa )


Ikuti Kuansing Terkini Melalui Media Sosial


TULIS KOMENTAR

BERITA TERKAIT