Ini Alasan Penyerangan Mal di Kenya

Senin,22 September 2013 - 12:07:00 WIB

Aksi penyerangan mal di Nairobi, Kenya. (Reuters)

NAIROBI - Polisi Nairobi akhirnya mendapat kejelasan soal dalang di balik aksi penyerangan Mal Westgate di ibu kota Nairobi pada Sabtu siang kemarin. Sebuah kelompok militan asal Somalia, al-Shabab mengaku bertanggung jawab terhadap serangan itu.

Dikutip dari laman Reuters, Minggu 22 September 2013, kelompok yang masih terkait dengan al-Qaeda itu menyatakan melalui akun resmi Twitter mereka. Melalui Twitter, al-Shabab tegas menolak dilakukannya negosiasi untuk membebaskan pengunjung mal yang masih disandera mereka.

"Pemerintah Kenya tengah berkomunikasi dengan Mujahid kami di dalam mal untuk negosiasi. Tidak akan ada negosiasi apa pun di #Westgate," tulis kelompok itu di Twitter mereka @HSM_Press.

Kicauan lain kelompok itu menyebut mereka ingin membawa peperangan ke tanah Kenya.

"Selama ini, kami telah berperang melawan tentara Kenya di tanah kami. Kini sudah waktunya lokasi pertempuran diubah dan membawa peperangan ke tanah mereka sendiri," kicau kelompok itu.

Menurut laporan BBC, saat ini, ada sekitar empat ribu tentara Kenya di selatan Somalia. Mereka telah berjuang melawan kelompok militan sejak 2011.

Serangan pada Sabtu kemarin diduga untuk menyasar warga non Muslim. Salah satu pengunjung mal mengatakan kepada jurnalis bahwa salah satu anggota kelompok itu memerintahkan kepada seluruh pengunjung Muslim untuk meninggalkan area pusat perbelanjaan tersebut.

Pernyataan itu diperkuat kesaksian Elijah Lamau yang berada di dalam mal saat peristiwa itu terjadi. "Mereka datang dan mengatakan, apabila Anda Muslim, berdiri. Kami datang untuk menyelamatkan Anda," ujar Lamau menirukan kalimat kelompok tersebut.

Lamau menambahkan, warga Muslim kemudian pergi dalam keadaan tangan diangkat di atas kepala. Lalu, pria bersenjata itu menembak dua orang.

Untuk memastikan apakah pengunjung mal yang dibebaskan adalah Muslim, anggota kelompok militan benar-benar mengecek.

Menurut seorang pengunjung non Muslim yang berhasil kabur mengatakan kepada koresponden BBC, Daniel Howden, salah seorang anggota kelompok itu bahkan menanyakan siapa nama ibu Nabi Muhammad kepada pengunjung pria India.

Saat tak bisa menjawab, sontak anggota kelompok militan itu langsung menembak mati pengunjung tadi.

Namun, Presiden Kenya, Uhuru Kenyatta, mengaku tidak gentar menghadapi para teroris ini. Dalam pernyataan yang dia sampaikan melalui televisi pada Sabtu malam kemarin, Kenyatta bersumpah akan menangkap semua pelaku tindak kejahatan keji ini.

"Kami sudah pernah menghadapi serangan teroris sebelumnya dan akan kami hadapi kembali," ujar Kenyatta.

Menurut laporan Dailymail, total personel kelompok itu ada sekitar 10 orang. Sementara itu, koresponden BBC, Frank Gardner, mengatakan salah satu dari kelompok itu diduga adalah seorang perempuan dan memiliki peran penting.

Kelompok itu masuk ke dalam Mal Westgate dengan melempar dua granat dan menenteng senjata AK-47.

Saat ini, menurut laporan BBC, sudah ada dua kontingen tentara militer khusus Kenya berada di dalam mal. Mereka menyisir satu demi satu toko yang berada ada di dalam.

Namun, baik BBC dan Reuters tidak dapat memastikan berapa jumlah pengunjung yang masih disandera di dalam mal.

Pelaku ditangkap
Sementara itu, seorang pejabat Kenya melaporkan, saat ini, lima pelaku sudah berhasil ditangkap. Satu di antaranya meninggal di RS akibat luka yang dia derita.

Total jumlah korban tewas yang disampaikan Kenyatta mencapai 39 orang. Beberapa di antaranya bahkan merupakan keluarga dekat dia.

Di antara 39 korban tewas, dua orang dilaporkan merupakan warga negara Prancis. Dua lainnya dilaporkan merupakan warga negara Kanada yang bertugas sebagai diplomat. Sementara itu, lebih dari 150 orang dilaporkan terluka.

Ini merupakan peristiwa aksi teroris terburuk yang pernah menimpa Kenya. Sebelumnya, pada Agustus 1998, peristiwa serupa juga pernah terjadi saat Kedutaan Besar Amerika Serikat di Nairobi, dibom oleh kelompok al-Qaeda. Sebanyak 200 orang dilaporkan tewas dalam aksi teroris itu. ( sumber : BBC/ozc )