Jelang Pacu Jalur, Sungai Kuantan Tetap Tercemar Berat Akibat Penambangan Emas illegal

Jelang Pacu Jalur, Sungai Kuantan Tetap Tercemar Berat Akibat Penambangan Emas illegal
Penambangan emas illegal di Hulu Kuantan. Fhoto N24

TELUK KUANTAN - Pada saat mata dunia tertuju pada pacu jalur lewat Dhika Aura Farming kondisi air sungai Kuantan tetap tercemar berat. Pasalnya aktifitas penambangan emas illegal dibagian hulu dan perbatasan Riau-Sumbar tetap tidak mereda.

Padahal menurut pengamat lingkungan Riau, Dr Mardianto Manan, MT, kondisi air sungai Kuantan menjadi salah satu taruhan dan nama baik pariwisata Kuansing, Riau dan Indonesia dimata dunia.

" Para pelaku penambangan emas besar yang dimodal cukong tidak boleh egois. Mereka harus sadar, perbuatan illegal mereka dapat membuat imej negatif bagi parwisata Kuansing, Riau dan Indonesia,"tegasnya, Senin (28/7/25).

Menurutnya sebagian besar penambangan emas disungai Kuantan milik pemodal. Sebab mereka menggunakan alat berat dalam beroperasi. 

" Mereka tidak lagi mencari hidup, tetapi sudah menjadi kekayaan. Sekali lagi mereka harus sadar ulah mereka dapat membuat nama buruk daerah dan negara Kita."ujarnya.

Mardianto Manan meminta Kapolda Riau memberi perhatian ekstra atas penambangan emas illegal di sungai Kuantan yang terjadi saat ini. Tidak hanya pada saat pacu jalur namun selamanya.

Sebab skala kerusakan lingkungan yang ditimbulkan sudah demikian tinggi. Dampaknya tidak pada flora dan fauna disungai Kuantan semata, namun telah membuat warga kesulitan air bersih, apalagi pada musim kemarau.

" Entah bagaimana sulitnya flora dan fauna yang hidup dalam sungai Kuantan. Untuk saling melihat diantara mereka saja sangat sulit. Karena demikian keruhnya air sungai Kuantan akibat penambangan emas illegal ini,"paparnya.

Peradaban masyarakat yang selama ini ada di sungai Kuantan sejak dahulu, menurutnya dihancurkan para pelaku penambangan emas illegal ini.

" Warga yang hendak memanfaatkan sungai Kuantan untuk mandi tidak bisa lagi. Warga yang hendak membuat kerambah ikan tidak bisa lagi. Warga yang hendak memanfaatkan sungai Kuantan untuk pertanian tidak bisa lagi,":uajrnya.

Lebih ironisnya kata Mardianto Manan,. dengan pencemaran berat sungai Kuanan yang terjadi saat in, warga semakin tidak peduli dengan sungai terbesar di Kuansing itu. Akhirnya sungai Kuantan semakin tidak menentu kodisinya.

" Lama-lamla nanti ketika warga tidak lai beraktiftas di sungai, sungai Kuantan  menjadi tempat binatang buas dan berbahaya seperti buaya dan yang lain dalam skala besar itu akan mengerikan"ujarnya.

Penertiban katanya tidak semata di bagian hulu dan perbatasan Riau-Sumbar, namun juga di seluruh sungai Kuantan. Agar kondisinya pulih seperti semula. ( nto )

Berita Lainnya

Index