Oleh : H Marwan Yohanis, M.I.Kom.
12 Oktober 1999 - 12 Oktober 2026. Kuantan Singingi lahir melalui UU No. 53 Tahun 1999, sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Indragiri Hulu, dengan Teluk Kuantan sebagai ibu kota. Saat ini Kuantan Singingi memiliki luas wilayah sekitar 7.656 km2, 15 Kecamatan, 11 Kelurahan, dan 218 desa.
Artinya: 27 tahun bukan waktu yang pendek.
Satu generasi telah tumbuh bersama Kuantan Singingi sebagai sebuah kabupaten.
Anak-anak yang lahir ketika Kuantan Singingi berdiri pada tahun 1999, hari ini sudah berusia 27 tahun. Mereka sudah menjadi guru, petani, pengusaha, ASN, politisi, aparat penegak hukum, pekerja, profesional, bahkan sebagian sudah menjadi orang tua.
*Maka keberhasilan Kuantan Singingi tidak cukup diukur dari gedung pemerintahan, jalan, jembatan dan APBD.
Ukuran terbesarnya adalah:
*Apakah generasi yang lahir bersama Kuantan Singingi hari ini mempunyai kehidupan yang lebih baik daripada generasi sebelumnya?*
*I. 27 TAHUN PERTAMA: PERJALANAN DARI PEMEKARAN MENUJU KEMANDIRIAN.**
Kelahiran Kuantan Singingi tahun 1999 merupakan bagian dari gelombang besar pemekaran daerah pada awal Reformasi.
Semangat dasarnya sangat jelas:
*daerah yang jauh dari pusat pemerintahan harus mendapatkan kesempatan untuk mengurus dirinya sendiri.*
Pemekaran memberikan sesuatu yang sangat penting: *kedekatan pemerintahan dengan masyarakat.*
Dulu masyarakat di wilayah Kuantan harus berurusan dengan pusat pemerintahan yang lebih jauh. Setelah menjadi kabupaten sendiri, pemerintah daerah dapat lebih fokus mengurus kebutuhan masyarakat Kuantan dan Singingi.
Dari sinilah pembangunan mulai bergerak.
Pelan-pelan:
* pemerintahan daerah dibangun;
* kantor-kantor pemerintahan berkembang;
* kecamatan dan desa mendapat perhatian;
* jalan dan jembatan dibangun;
* fasilitas pendidikan dan kesehatan bertambah;
* aktivitas ekonomi tumbuh;
* konektivitas antar desa dan dengan daerah lain semakin terbuka.
*Kuantan Singingi yang kita kenal sekarang adalah hasil akumulasi kerja 27 tahun tersebut.*
Karena itu, ada satu hal yang harus kita akui:
*Kuantan Singingi hari ini jauh berbeda dengan Kuantan Singingi tahun 1999.*
Itu adalah keberhasilan bersama.
Bukan keberhasilan satu bupati.
Bukan keberhasilan satu periode DPRD.
Bukan keberhasilan satu partai politik.
Bukan keberhasilan satu generasi.
Tetapi hasil kerja ribuan orang: pejabat, DPRD, ASN, guru, petani, pedagang, tokoh adat, ninik mamak, ulama, pemuda, perempuan, pengusaha, pekerja, masyarakat desa, dan seluruh komponen masyarakat serta seluruh generasi yang ikut membangun Kuantan Singingi.
*II. YANG PATUT DIBANGGAKAN*
*1. Kuantan Singingi mampu membangun identitas sendiri.*
Ini mungkin pencapaian yang tidak dihitung.
Sebuah daerah baru bisa saja menjadi “kabupaten hasil pemekaran”.
Tetapi Kuantan Singingi berhasil membangun identitas yang kuat.
Ketika orang menyebut *Kuantan Singingi*, salah satu hal pertama yang muncul di kepala orang luar adalah:
Pacu Jalur
Itu luar biasa.
Pacu Jalur bukan sekedar perlombaan.
Ia merupakan identitas sosial, budaya, gotong royong, kepemimpinan, kebersamaan, disiplin, sportivitas dan kebanggaan kampung, dan simbol hubungan harmoni masyarakat dengan alam, dengan Sungai Kuantan, serta penghargaan kepada para leluhur.
Pada 2026, Pacu Jalur semakin jelas diposisikan sebagai kekuatan pariwisata dan ekonomi daerah. Pemerintahan mencatat event tersebut memberikan efek terhadap hotel, UMKM, jasa, pedagang dan sektor lainnya. (Kuantan Singingi-Pemerintah*)
Ini menunjukkan bahwa *budaya sebenarnya bisa menjadi mesin ekonomi.
Dan Kuantan Singingi punya modal budaya yang sangat kuat.
2. Masyarakat Kuantan Singingi memiliki modal sosial yang besar
Ini salah satu aset terbesar yang kadang tidak masuk neraca pembangunan.
Di banyak kampung masih ada:
* gotong royong;
* ninik mamak;
* lembaga adat;
* surau/masjid;
* organisasi kepemudaan;
* kelompok tani;
* kelompok perempuan;
* komunitas budaya;
* hubungan kekeluargaan yang kuat.
Artinya, Kuantan Singingi sebenarnya mempunyai *social capital* yang besar.
Persoalannya tinggal satu:
Bisakah modal sosial itu diubah menjadi modal pembangunan?
Kalau bisa Kuantan Singingi mempunyai keunggulan dibandingkan banyak dengan daerah lain.
3. Ekonomi Kuantan Singingi ternyata punya fondasi yang sangat kuat.
Data terbaru menunjukkan ekonomi Kuantan Singingi pada 2025 tumbuh 5,31%, naik cukup signifikan 3,12% pada 2024.
Kemiskinan juga turun dari 7,89% menjadi 6,99%, sedangkan IPM meningkat dari 74,00 menjadi 74,62. (Kuantan Singingi-Pemerintah *)
Ini kabar baik.
Tetapi ada catatan penting.
Pertumbuhan ekonomi tidak otomatis seluruh masyarakat menikmati pertumbuhan tersebut.
Struktur ekonomi Kuantan Singingi masih sangat agraris.
BPS mencatat pada 2024 sektor pertanian menyerap sekitar *46,06% tenaga kerja*, sementara kontribusinya terhadap PDRB *51,12%.* (BPS Kuantan Singingi *).
Ini berarti:
Petani masih menjadi tulang punggung Kuantan Singingi.
Maka kalau pemerintah ingin meningkatkan kesejahteraan Kuantan Singingi, jangan hanya bicara investasi besar.
Naikkan pendapatan petani.
III. TETAPI ADA SISI LAIN HARUS DIAKUI
Kalau kita hanya membuat tulisan ulang tahun yang isinya pujian, menurut saya itu bukan refleksi.
27 tahun justru harus menjadi kesempatan untuk *berani mengoreksi diri.
1. Kuantan Singingi masih bergantung sumber daya alam
Ini persoalan besar.
Tanah menghasilkan.
Sawit menghasilkan.
Karet menghasilkan.
Pertambangan menghasilkan.
Hutan menghasilkan.
Sungai menghasilkan.
Tetapi pertanyaan yang lebih penting:
Berapa banyak nilai tambah yang tinggal di Kuantan Singingi
Kalau bahan mentah keluar dari produk jadi dibuat ditempat lain, maka Kuantan Singingi hanya mendapatkan sebagian kecil dari nilai ekonomi.
Kita seharusnya bergerak.
dari menjual hasil bumi -> mengolah hasil bumi -> menciptakan merek-> menciptakan industri-> menjual produk bernilai tinggi.
Misalnya:
Bukan hanya menjual sawit.
Tetapi membangun ekosistem industri turunannya.
Bukan hanya menjual karet.
Tetapi mengembangkan produk olahan karet.
Bukan hanya menjual ikan.
Tetapi membangun industri pengolahan ikan.
Bukan hanya menjual objek wisata.
Tetapi membangun paket wisata, kuliner, homestay, ekonomi kreatif dan merchandise.
2. Infrastruktur masih menjadi pekerjaan rumah
Ini persoalan yang sangat terasa oleh masyarakat.
Pada tahun 2026 saja masih ada pekerjaan peninggalan jalan yang dilakukan untuk memperbaiki konektivitas, termasuk jalur Muara Lembu sampai perbatasan Sumatra Barat, Pemerintah terus membangun dan memperbaiki jembatan untuk membuka akses masyarakat. (Antara Riau + 1*).
Artinya, pembangunan infrastruktur memang sudah jauh berkembang dibanding masa awal pemekaran.
Tetapi *belum selesai.*
Dan kita harus mengubah paradigma.
Jangan hanya bertanya:
“Berapa kilometer jalan dibangun?”
”Tetapi, berapa biaya transportasi petani yang berhasil kita turunkan?”
”Berapa lama waktu tempuh desa ke pusat ekonomi yang berhasil kita potong?”
”Berapa banyak produk desa yang sekarang bisa masuk pasar?”
Itulah ukuran infrastruktur sebenarnya.
3. Persoalan lingkungan adalah alarm serius
Ini mungkin salah satu tantangan terberat Kuantan Singingi ke depan.
Sungai Kuantan adalah identitas sekaligus sumber kehidupan.
Namun persoalan *Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI)* masih menjadi persoalan serius.
Pada Juli 2026 aparat menertibkan aktivitas PETI di sepanjang Sungai Kuantan karena dinilai merusak ekosistem dan mencemari air. Bahkan pada operasi Agustus 2026, aparat melaporkan telah menertibkan *525 rakit PETI* dan memasang larangan di puluhan titik. (Media Center Riau + 1*).
Ini harus kita lihat lebih dalam.
Masalah PETI bukan sekedar:
”orang melanggar hukum “
Ada persoalan ekonomi di belakangnya.
Kalau seseorang memilih masuk ke sungai untuk mencari emas, berarti ada persoalan:
* kesempatan kerja;
* pendapatan;
* kemiskinan;
* keterampilan;
* akses modal;
* dan ekonomi lokal.
Maka menertibkan PETI harus dilakukan dengan dua tangan.
Tangan pertama: hukum.
Tegas terhadap aktivitas ilegal.
Tangan ke dua: ekonomi
Carikan mata pencaharian yang masuk akal.
Kalau hanya menutup PETI tetapi tidak mencarikan alternatif ekonomi, persoalan bisa muncul kembali.
4. Konflik lahan dan hubungan masyarakat dengan perusahaan harus diselesaikan secara bermartabat
Contohnya terlihat pada persoalan masyarakat Koto Baru dengan PT. RAPP pada 2026 terkait dengan lahan yang diklaim masyarakat sebagai tanah ulayat dan berada dalam kawasan konsesi.
Persoalan masyarakat desa Siberakun, kenegerian Benai dengan PT. Duta Palma (sekarang di kelola oleh PT. Agrinas Palma Nusantara).
Dikelola swasta atau perusahaan plat merah, tetap belum jelas penyelesaiannya.
pemerintah Kabupaten memfasilitasi mediasi masyarakat dan perusahaan. (Riau Pos*)
Ini menunjukkan pekerjaan rumah penting:
Kepastian status tanah.
Kuantan Singingi harus serius menyelesaikan:
* tanah ulayat;
* perkebunan masyarakat;
* batas desa;
* kawasan perusahaan;
* kawasan hutan;
* konflik agraria.
Karena konflik tanah bisa berlangsung lintas generasi.
Dan jangan sampai anak cucu kita mewarisi konflik yang sebenarnya bisa diselesaikan hari ini.
5. Tata Kelola Pemerintahan harus semakin dewasa.
Pada usia 27 tahun, Kuantan Singingi harus sudah meninggalkan pola:
”Siapa yang berkuasa?”
menuju:
”sistem apa yang kita bangun?”
Ini sangat penting.
Bupati berganti.
DPRD berganti.
Sekda berganti.
Kepada OPD berganti.
Tetapi pembangunan daerah harus tetap berjalan.
Karena itu Kuantan Singingi telah memiliki RPJPD 2025 - 2045 sebagai kerangka pembangunan jangka panjang. (JDIH Kuansing*).
Tantangannya adalah:
Jangan sampai RPJPD hanya sebagai dokumen.
Ia harus menjadi *kontrak pembangunan lintas pemerintahan.*
IV. ADA SATU PARADOKS BESAR KUANTAN SINGINGI
Menurut saya Kuantan Singingi punya masalah yang menarik.
Kita kaya sumber daya, tapi belum sepenuhnya kaya nilai tambah.
Kita punya:
* sawit;
* pertanian;
* hutan;
* mineral;
* sungai;
* alam;
* Pacu Jalur;
* budaya;
* masyarakat agraris;
* generasi muda.
Tetapi pertanyaannya:
Kenapa anak muda masih merasa harus keluar mencari masa depan?
Ini pertanyaan harus dijawab.
Karena kalau generasi terbaik Kuantan Singingi pergi semua, daerah akan kehilangan:
energi, kreativitas, inovasi, dan kepemimpinan masa depan.
Kuantan Singingi ke depan punya kekuatan:
*Pertanian + budaya + pariwisata + ekonomi hijau + industri + pengolahan + SDM*
Saya sebut dengan model:
*KUANTAN SINGINGI 2045: DAERAH PRODUKTIF, BERBUDAYA DAN BERKELANJUTAN*
*VI. SARAN PENTING UNTUK KUANTAN SINGINGI*
1. Jadikan Petani Sebagai Prioritas Utama.
Bukan sekedar bantuan pupuk atau bibit.
Bangun Ekosistem:
Produksi-> Pengolahan-> Branding-> Pemasaran-> Ekspor.
Petani harus naik kelas menjadi *pengusaha pertanian.
2. Pacu Jalur harus menjadi “economic Eco system”
Orang datang ke Kuantan Singingi:
* belajar budaya;
* melihat pembuatan jalur;
* wisata sungai Kuantan:
* kuliner;
* homestay;
* wisata desa;
* membeli kerajinan;
* mengikuti festival kecil;
* menikmati wisata alam.
Pacu Jalur pintu masuknya
Ekonomi berjalan sepanjang tahun.
3. Sungai Kuantan harus diselamatkan*
Ini bukan sekedar program lingkungan.
Ini program peradaban.
Bayangkan 20 tahun lagi Sungai Kuantan menjadi:
* bersih;
* aman, nyaman;
* destinasi wisata;
* pusat olahraga air;
* pusat budaya;
* sumber ekonomi masyarakat.
Itu menjadi warisan yang jauh lebih berharga daripada banyak proyek menanam beton.
Target akhirnya, bukan sekedar RAKIT PETI HILANG.
Tetapi, dulunya orang bekerja di PETI, sekarang punya pekerjaan legal yang menguntungkan.
5. Bangun pusat industri pengolahan hasil pertanian.
Kuantan Singingi jangan selamanya pemasok bahan mentah.
Harus sudah mulai muncul:
*Kawasan Agroindustri Kuantan Singingi.
Misalnya: Sawit, karet, kelapa, pangan, ikan, hasil hutan non kayu.
6. Pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan.
Jangan hanya menghabiskan ijazah.
Sekolah dan Perguruan tinggi harus menghasilkan: keterampilan.
7. Anak muda harus diberi ruang.
Kuansing membutuhkan:
”Kuantan Singingi Young Leaders.”
Bukan generasi seremonial.
Tetapi ekosistem anak muda untuk :
* startup;
* UMKM;
* teknologi;
* Pertanian modern;
* conten lt creator;
* olahraga seni, budaya;
* dan penelitian.
8. Pemerintahan harus semakin digital dan transparan.
Masyarakat harus bisa mengetahui:
* APBD;
* Proyek;
* Progres Pembangunan;
* Target OPD;
* indikator keberhasilan;
* pengadaan;
* capaian program.
Bukan untuk mencari kesalahan.
Tetapi supaya masyarakat bisa ikut mengawasi.
pemerintah yang kuat bukan pemerintah yang takut dikritik.
Pemerintah yang kuat adalah pemerintah yang mampu membuktikan hasil kerjanya dengan data.
9. Jangan Kehilangan Karakter Melayu Kuantan Singingi.
Ini mungkin termasuk yang penting:
Modernisasi jangan membuat Kuantan Singingi kehilangan jiwanya.
Kemajuan teknologi. investasi, hotel, industri tentu boleh.
Tetapi:
*Adat jangan hilang;*
*Bahasa jangan hilang*
*Sopan santun jangan hilang;*
*Gotong royong jangan hilang;*
Pacu Jalur jangan kehilangan ruhnya.
Karena sebuah daerah yang maju tetapi kehilangan identitasnya sebenarnya hanya menjadi tempat tinggal.
Bukan lagi kampung halaman
Kuantan Singingi sudah berhasil membuktikan sebuah daerah pemekaran bisa tumbuh menjadi daerah yang mempunyai identitas, budaya dan potensi ekonomi sendiri; tetapi 27 tahun berikutnya harus menjadi mas ketika Kuantan Singingi berhenti sekedar mengandalkan kekayaan alam dan mulai mengubah kekayaan itu menjadi kesejahteraan, pengetahuan, nilai tambah dan masa depan bagi generasi mudanya.*l
12 Oktober 1999 adalah hari ketika Kuantan Singingi dilahirkan sebagai Kabupaten.
12 Oktober 2026 seharusnya menjadi hari ketika Kuantan Singingi mulai bertanya:
”Setelah 27 tahun mau menjadi apa kita?”
Bukan sekedar *Kuantan Singingi yang lebih maju
Tetapi:
KUANTAN SINGINGI YANG MAJU TANPA KEHILANGAN JATI DIRI.
KUANTAN SINGINGI YANG KAYA TANPA MERUSAK ALAM.
KUANTAN SINGINGI YANG MODERN TANPA MENINGGALKAN ADAT.
KUANTAN SINGINGI YANG TUMBUH TANPA MENINGGALKAN DESA.
KUANTAN SINGINGI YANG MEMBERI ALASAN UNTUK ANAK MUDA PULANG.
Karena pada akhirnya keberhasilan sebuah kabupaten bukan karena gedung-gedungnya semakin tinggi, tetapi ketika anak-anak yang lahir di sana mempunyai alasan untuk bangga mengatakan:
”Saya Orang Kuantan Singingi”
Selamat Ulang Tahun ke 27 Kuantan Singingi.
12 Oktober 1999 - 12 Oktober 2026
Hidupkan adatnya.
Majukan ekonominya.
Jaga sungainya.
Bangun manusianya.
Dan jangan pernah kehilangan jati dirinya.

