Pacu Jalur Harumkan Nama Indonesia, Namun Perhatian Pusat Atas Tepian Narosa Tidak Ada

Pacu Jalur Harumkan Nama Indonesia, Namun Perhatian Pusat Atas Tepian Narosa Tidak Ada
Gelanggang Pacu Jalur Tepian Narosa Teluk Kuantan

TELUK KUANTAN - Pacu jalur milik warga Kiuantan Singingi atau Kuansing telah mengharumkan nama Indonesia dikancah internasional.

Namun sejak dulu sampai sekarang, perhatian pemerintah pusat membenahi gelanggang Tepian Narosa Teluk Kuantan boleh dikatakan tidak ada sama sekali.

Padahal untuk objek wisata lain, pusat mengucurkan dana sangat besar. Untuk pengembangan Danau Toba, dikucurkan dana Rp 6,5 triliun.

Untuk pengembangan Candi Borobubur dialokasikan dana Rp 6.8 Triliun. Untuk pengembangan kawasan Mandalika Lombok Rp 2.4 Triliun.

Sementara dari perencanaan telah disusun, penataan kawasan Tepian Narosa sebagai lokasi puncak pacu jalur hanya membutuhkan dana Rp 130 Milyar.

" Perhatian pusat atas Pacu Jalur dari sisi insfratruktur minim sekali, boleh disebut tidak ada. Tengoklah Tepian Narosa tidak ada perubahan,"kata tokoh masyarakat Kuansing, Dr Mardianto Manan, MT, Jumat (11/7/25)

Padahal dalam pengamatanya, pacu jalur punya kontribusi mengangkat nama Indonesia.

" Sebelum Rayan Arkhan Dika ada Alpino Cahyadi togak luan jalur Rajo Bujang, ada juga Davi togak luan jalur Alam Cahayo Tuagh Nagoghi  yang juga viral,"sebutnya..

Ia belum melihat pejabat dipusat dan provinsi memberi pernyataan dan komitmen  tegas akan membantu pembenahan insfrastuktur pacu jalur

Mereka terkesan hanya memanfaatkan togak luan atau tukang tari  jalur yang sedang viral untuk elektabilitas masing-masing.

" Momentum ini oleh Kuansing menjadi posisi tawar ke pusat untuk membantu pembangunan insfrastuktur pacu jalur agar lebih baik lagi,"ujarnya.

Sebab Ia khawatir seusai pacu jalur di Narosa selesai, segala hiruk pikuk di medsos akan berangsur-angsur tenggelam. Sementara insfrastruktur pacu jalir tidak mengalami perubahan. Begitu juga tahun selanjutnya,  pendanaan tidak ada kontribusi pusat.

" Jadi nasasi-narasi tidak adahya  kepedulian pusat dan provinsi harus juga digemakan warga Kuansing, baik di kampung halaman maupun diperantauan,"pintanya.

Mengapa yang digugat pusat katanya, karena sungai Kuantan sebagai bagian dari sungai Indragiri kewenangannya berada dipemerintah pusat. 

" Saya kira jika dalam dua tahun pusat membenahi akan selesai. Total dana kan Rp 130 M, jika dalam setahun dianggarkan Rp 65 M, maka dalam dua tahun tuntas,"katanya.

Kepedulian dari pusat juga sebagai penghargaan masyarakat Kuansing yang telah  berhasil merawat pacu jalur dalam hitungan beberapa abad.

" Melestarikan sebuah tradisi berabad-abad tidak mudah. Itu terjadi karena kecintaan yang muncul dari warga itu sendiri,"urainya.

Belum lagi kalau diinjau dari kontribusi penerimaan negara dari SDA Riau yang besar. 

“ Masak untuk insfrastruktur pacu jalur salah satu tradisi Riau yang telah populer ini saja pusat tidak mau,”katanya.

Dalam pandangannya, setelah viral di dunia internasional mesti dilakukan penataan oleh pusat. Karena ini taruhan Indonesia dimata dunia. Sebab fasilitas pendukung seperti tribun, pujasera, tempat rehat, parkir dan sarana MCK harus memadai.

Tidak hanya itu kata Mardianto, upaya mengatasi kerusakan sungai Kuantan akibat aktititas Peti juga tidak nampak. Padahal sungai Kuantan dari dulu, sekarang dan akan datang menjadi pusat oerdaban. Sama dengan sungai Kampar, sungai Rokan dan sungai Siak.

" Dalam forum penyusunan RPJMD Gubri A Abdul wahid belum lama ini juga Saya sampaikan persoalan ini,"pungkasnya. ( jb)

Berita Lainnya

Index