Rawan Tergerus, Mantan Ketua PWI Kuansing Himpun Kosa Kata Bahasa Kenegerian Teluk Kuantan

Rawan Tergerus, Mantan Ketua PWI Kuansing Himpun Kosa Kata Bahasa Kenegerian Teluk Kuantan
Idi Susianto

TELUKKUANTAN - Bahasa kenegerian Teluk Kuantan menjadi bahasa lokal di Kuantan Singingi ( Kuansing ) yang rentan tergerus keasliannya.

Menurut mantan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia ( PWI ) Kuansing, Idi Susianto, salah satu penyebab  karena kota Teluk Kuantan semakin majemuk. 

Kemajemukan menurutnya akan dapat membuat dominasi bahasa nasional dan bahasa dari berbagai daerah di Indonesia yang datang akan terjadi dalam keluarga dan komunikasi antar sesama komunitas warga.

“ Kemajemukan kedepannya juga akan dapat membuat percampuran dialek dan kosa kata antara bahasa asli daerah , bahasa daerah lain dan bahasa Indonesia yang menimbulkan dialek dan perumpamaan baru,,”ujarnya.

Semakinnya minim penutur asli, berimbang atau  jumlah penduduk non tempatan telah lebih besar dari tempatan. .

Terputusnya transmisi antar generasi dilingkup keluarga.

" Orang tua tidak lagi mengajarkan bahasa ibu kepada anak-anak mereka sesuai aslinya, sehingga bahasa tersebut tidak diturunkan ke generasi berikutnya,"katanya.

Faktor lain lanjutnya urbanisasi, perkawinan antar etnis.

" Faktor sosial dan budaya juga berperan, dimana adanya masyarakat merasa gengsi, kurang percaya diri, atau menganggap bahasa daerah tidak modern, kurang bergengsi dibandingkan bahasa nasional atau asing,"katanya.

Menurutnya beberapa kosa kata yang telah mulai hilang seperti beselijin, nan grak ola, nan tariko.

" Beselijin artinya mendongkol saat  disuruh sesuatu. Nan Grak Ola atau Nan Tariko artinya masa nan lalu atau yang sebenarnya,"katanya.

Termasuk kosa kata yang terkait dengan nama-nama penyakit. Misal dek kujin, dek sampu, barabuni, tasapo, dek buruik dan yang lain juga sudah jarang digunakan.

" Karena secara ilmu kesehatan sudah ada nama medisnya, jadi warga sudah kurang menggunakan,"kata Idi.

Menurutnya kosa kata bahasa lokal itu unik dan khas termasuk di Teluk Kuantan. Contoh ada kosa kata Mangkuar ( Cangkul ), Orun ( Harum ) dan Sengantok ( Nyaris) serta Jegak ( barangkali ).

Dikatakannya bahasa daerah berperan krusial sebagai alat komunikasi intraetnik, identitas kultural, dan warisan budaya yang membawa kearifan lokal. 

" Bahasa daerah itu sebenarnya terstruktur dengan baik sekali. Contoh untuk istilah kecil, ada kosa kata kenek dan kenut yang berbeda fungsi penggunaannya. Kenek untuk menyebut isiilah kecil secara umum, sedangkan untuk yang lebih kecil memakai kosa kata Kenut,"ujarnya.

“ Juga dalam kosa kata melempar, ada kosa kata lantiang, hewar dan puar, yang berbeda pemakaiannya. Hewar dan puar dipakai untuk melempar dengan tujuan untuk memberi efek jera yang keras, kadang untuk melumpuhkan,,”sambungnya.

Untuk itu secara swadaya ( manditi )  Ia menghimpun kosa kata bahasa lokal Kenegerian Teluk Kuantan.

Pertimbangannya karena generasi yang lahir era tahun 40 an dan 90 an masih banyak.

" Generasi tahun 40 sampai 90 an merupakan generasi dimana mereka masih menggunakan bahasa daerah secara murni, karena belum majemuk dan belum terbentuk kabupaten. Kepada mereka masih bisa ditanya kosa kata asli yang masih ingat,""ujarnya.

Walaupun katanya pada generasi kelahiran 40 an dan 90 an juga banyak yang sudah lupa dan  terpengaruh percampuran bahasa nasional dan daerah lain sejak Teluk Kuantan menjadi ibukota kabupaten.

Menurutnya, himpunan kosa kata berbeda dengan kamus bahasa. Kamus bahasa sangat lengkap

" Kamus bahasa isinya jauh lebih lengkap, meliputi definisi, ejaan, pengucapan lafal, etimologi asal-usul kata, kelas kata (nomina, verba), dan contoh penggunaan dalam kalimat,"ujarnya.

Menurutnya Kamus Bahasa disusun lembaga yang berwenang dan secara resmi menyusun kamus bahasa daerah di Indonesia yakni Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. 

" Mereka punya balai bahasa disetiap provinsi,"katanya.

Sedangkan himpunan kosa kata yang Ia kumpulkan berisi kumpulan kosa kata bahasa Kenegerian Teluk Kuantan yang dapat dilakukan dengan semaksimal mungkin dengan berbagai keterbatasan.

" Himpunan kosa kata tetap  alpabet dari A sampai Z,"ujarnya.

Tujuan tidak lain agar ada dokumentasi awal atau dasar-dasar himpunan kosa kata Bahasa Kenegerian Teluk Kuantan kedepan.

" Bisa membantu jika ada lembaga pemerintah dan swasta yang berniat membuat kamus bahasa daerah Teluk Kuantan kedepan,"tukasnya.

Karena secara mandiri, ujarnya tidak ditentukan target waktu penyelesaian. Yang penting sudah ada upaya memulai menghimpun kosa kata bahasa Kenegerian Teluk Kuantan. Karena setiap daerah punya bahasa yang khas dan unik yang perlu dilestarikan dalam kehidupan sehari-hari dan didokumentasi.

" Sambil berjalan saja. Jika bertemu tokoh-tokoh masyarakat dan orang tua, Kita tanya-tanya kosa kata asli,"sebutnya.

Namun demikian, Ia menyarankan pelestarian bahasa lokal harus dilakukan dengan langkah nyata. 

“ Misal dengan menggunakannya pada nama jalan, gang, ruang pertemuan dan fasum serta fasos lainnya agar tidak semakin hilang,”pungkas putra kenegerian Teluk Kuantan ini. ( ms)

Berita Lainnya

Index