Di Pangean Kuantan, malam menjelang hari raya bukan sekadar pergantian waktu—ia adalah peristiwa rasa, yang merayap pelan ke dalam dada, lalu menetap menjadi rindu yang tak pernah usang.
Senja terakhir Ramadhan turun dengan warna keemasan. Dari dapur-dapur rumah tuo atau rumah induak, hingga rumah papan sederhana, asap tipis mengepul membawa aroma kue yang baru diangkat dari tungku: semprong, kue bangkit, dodol, galamai, lomang dan bolu yang dipanggang dengan penuh cinta. Di halaman, anak-anak berlarian tanpa beban, sementara orang tua sibuk menyempurnakan persiapan yang tak pernah benar-benar dianggap sebagai “repot”—melainkan bagian dari kebahagiaan itu sendiri.
Begitu malam tiba, kampung Pangean Kuantan berubah wajah.
Di sepanjang jalan kampung, obor-obor minyak tanah berdiri tegak, ditancapkan di depan rumah warga. Bambu-bambu yang dilubangi, diisi minyak tanah, dengan sumbu dari sabut atau kain bekas, menyala berkelip-kelip. Cahaya mereka mungkin redup dibanding lampu listrik hari ini, tapi justru di situlah hangatnya—membuat kampung terasa hidup, menyatu, dan akrab.
Gemerlap obor itu seperti bahasa tanpa kata: bahwa esok adalah hari kemenangan.
Dari surau dan masjid, gema takbir mulai menggulung. Lalu berubah menjadi arak-arakan. Rombongan demi rombongan berjalan mengelilingi kampung—membawa beduk kecil, pengeras suara sederhana, dan semangat yang tak terbendung. Lomba takbiran bukan sekadar soal juara, tapi soal kebanggaan kampung, soal kekompakan, soal siapa yang paling menggugah hati.
Hadiahnya mungkin hanya sejeregen minyak tanah. Tapi nilainya jauh melampaui itu—ia adalah simbol kebersamaan.
Dan malam pun terasa pendek.
Pagi hari raya datang dengan embun yang masih setia di pucuk daun. Orang-orang berbalut pakaian terbaik, berjalan menuju lapangan atau masjid. Wajah-wajah bersih, hati yang lapang, dan saling sapa yang tulus—itulah Idul Fitri di Pangean Nagori Kuantan.
Namun, puncak keindahan itu justru dimulai setelahnya: tradisi barayo.
Dengan satu rantang bertingkat—tiga, empat, bahkan lima susun—orang-orang berjalan dari rumah ke rumah. Isinya penuh kue lebaran, tersusun rapi, dibawa dengan bangga sekaligus sederhana.
Yang indah bukan hanya memberi, tapi cara memberi itu sendiri.
Setiap rumah yang dikunjungi, rantang dibuka. Isinya tidak dihabiskan, tidak pula sekadar ditambah. Tapi disalin—ditukar. Kue dari rumah kita diganti dengan kue dari rumah yang kita kunjungi. Begitu seterusnya.
Ajaibnya, rantang itu tak pernah kosong.
Ia justru semakin berisi, semakin beragam, semakin “kaya” seiring langkah kaki menapak dari satu pintu ke pintu lainnya.
Dan di situlah filosofi hidup orang kampung dulu terasa begitu dalam: memberi bukan mengurangi, tapi justru menambah.
Lucunya, kadang ada kue yang “berputar”. Dari rumah A ke B, ke C, lalu entah bagaimana kembali lagi ke rumah A. Saat disadari, pecahlah tawa—tawa lepas yang tidak dibuat-buat. Dari hal sederhana, lahir cerita yang akan dikenang bertahun-tahun.
Hari itu, tidak ada yang merasa kekurangan. Tidak ada yang merasa sendiri.Tidak ada yang merasa paling memberi atau paling menerima. Semua saling mengisi.
Kini, waktu telah membawa kita jauh. Lampu listrik menggantikan obor, kotak kue menggantikan rantang, dan kunjungan kadang tergantikan oleh pesan singkat. Namun kenangan itu tetap tinggal.
Di sudut hati orang-orang Pangean, tradisi itu bukan sekadar masa lalu—ia adalah nilai: tentang kebersamaan, tentang kesederhanaan, dan tentang keyakinan bahwa berbagi tak pernah membuat kita kehilangan.
Justru sebaliknya— ia membuat kita pulang dengan hati yang lebih penuh. Inilah persahabatan kekeluargaan yang sebenarnya ada di Nagori Kuantan masa lalu, apakabar saat ini, masih adakah???
Mardianto Manan
Tokoh Masyarakat Kuansing

