Terus Jual Lahan, Warga Tempatan Kuansing Akan Jadi Penonton Dinegeri Sendiri

Terus Jual Lahan, Warga Tempatan Kuansing Akan Jadi Penonton Dinegeri Sendiri
HPT Batang Lipai Siabu yang berubah jadi kebun sawit

TELUKKUANTAN - Ketua LSM Pemberdayaan Masyarakat Adil dan Sejahtera Kuansing, Junaidi Affandi kembali mengungkapkan rasa cemas atas nasib dan eksistensi warga tempatan Kuansing yang makin terpinggirkan ditanah sendiri.

Ambil contoh di kota Teluk Kuantan, aset-aset bangunan  dan tanah yang ada di jalan Proklamasi Kemerdekaan Sungai Jering dari  Carano-STM dan Jalur Dua STM-Simpang Empat Sawah sudah dikuasai oleh non tempatan.

" Kalau dikawasan Pasar jangan ditanya lagi. Boleh dikata sudah tidak ada,"ujarnya.

" Kondisi ini warning besar bagi warga tempatan untuk berbenah. Tidak perlu menyalah orang lain cukup evaluasi dan berbenah serta secara bersama bergerak membangun basis-basis ekonomi baru,"sambungnya.

Tidak hanya dikota ungkapnya, didesa-desa warga tempatan juga menghadapi tekanan. Warga desa Jake yang tergabung dalam Himpunan Petani Sawit Kuantan Singingi (!HPSKS) berkonflik dengan PT WSN. Warga desa Kebun Lado berkonflik dengan PT RAPP.

" Di Pucuk Rantau berkonflik dengan PT KTBM,"ungkapnya.

Konflik-konflik lahan antara perusahaan dan warga tempatan membuktikan posisi tawar dan kekuatan warga tempatan sudah melemah.

" Ibarat pepatah orang tua Kita dulu sudah alah oleh urang lalu,"ujarnya.

Rasa prihatinnya bertambah lantaran lahan dan hutan tersisa di Kuansing pun habis dijarah cukong dan orang luar. Contoh di HPT Batang Lipai Siabu. Hutan seluas 12 ribu ha itu sudah hampir habis oleh cukong, perambah dari luar, berkedok perusahaan, koperasi dan modus lainnya.

Junaidi memprediksi HPT Batang Lipai Siabu kondisinya akan sama persis dengan TNTN.

Ketika kawasan itu sudah habis oleh orang luar, cukong, koperasi atau PT dan  muncul pemukiman orang baru,  baru timbul kehebohan dan dipersoalkan. Padahal katanya tidak mudah menertibkan jika HPT itu sudah berubah menjadi kebun kelapa sawit dan terbentuk pemukiman orang-orang dari luar dan dikuasai orang luar.

" Ambil contoh ke yang sudah. Betapa sulitnya menertibkan kawasan TNTN,"ujarnya.

Selain HPT Batang Lipai Siabu, sambungnya perambahan hutan akan meluas ke kawasan Taman Suaka Margsatwa Bukit Rimbang Baling.

" HPT Batang Lipai Siabu dan Taman Suaka Marga Margasatwa Bukit Rimbang Baling berada diperbatasan Riau-Sumbar. Saya prediksi setelah itu mereka perambahan bisa menuju hutan-hutan di Sumbar yang ada di perbatasan,"ujarnya.

" Apalagi kalau cukong-cukong dan  yang punya modal kuat juga beraksi disana dalam jumlah banyak"ujarnya.

Junaidi memprediksi jika dua kawasan itu habis dijarah maka masyarakat tempatan Riau dan Sumbar akan terkejut dengan realita baru yang ada.

Menurutnya jika kawasan puluhan ribu hektare itu telah dikuasai orang lain dan kelapa sawit telah berproduksi betapa kuatnya kekuatan ekonomi orang disana.

" Belum lagi sumber-sumber daya  alam dan mineral yang ada disana seperti batu bara, emas dan mangan tentu akan mereka nikmati,"ujarnya.

" Maka tidak heran Saya prediksi warga tempatan akan menjadi penonton dinegeri sendiri. Karena lahan dan tanah yang ada asset kaya mineral dan lahan-lahan perkebunan yang tersisa sudah dikuasai orang,"sambungnya. 

Mengapa itu terjadi, karena warga tempatan tidak punya lagi areal atau kawasan untuk berkebun. Karena hutan-hutan sudah habis oleh cukong dan orang luar dan tidak akan mudah menggesernya

Sebaliknya dengan kekuatan ekonomi orang-orang disana katanya, secara perlahan mereka akan membeli dan menguasai asset-asset warga tempatan yang pada akhirnya membuat asset-asset warga tempatan semakin berkurang.

Mengapa ini terjadi katanya, sederet pemicu adanya tokoh-tokoh masyarakat yang menjual hutan dan memberi jalan masuk kepada orang lain demi kepentingan pribadi.

" Ingat dan sayangi nasib anak cucu kemenakan dimasa datang. Jangan memberi jalan bagi cukong dan perambah masuk dan menguasai lahan dan asset yang ada,"urainya.

Junaidi menyitir Ari Ginanjar soal tembok Cina. Tembok itu dibangun untuk menghadang ekspansi Mongol dan berhasil. Namun Manchu akhirnya dapat membobolnya. Kenapa, karena penjaga-penjaga pintu perbatasa atau tembok ada yang terkena sogok.

" Jadi itu pentingya integritas, komitmen dan idealisme. Tanpa itu sebuah peradaban masyarakat bisa hancur dan tinggal terkikis sampai titik menyedihkan,"ujarnya.

Ia menyarankan agar para tokoh adat dan tokoh lokal bersinergi satu sama lain. Bagi yang memiliki lahan mengundang sanak saudara dari lain untuk menggarapnya, bukan kepada cukong dan perambah dari luar.

" Ini bukan sikap antipati pada orang luar. Semata-mata karena  banyak warga tempatan tidak punya lahan dan masih miskin,"tukasnya.

Terakhir Junaidi berharap tidak ada lagi pembangunan Pabrik Kelapa Sawit baru. Karena jumlah PKS yang ada sudah memadai.

Apalagi PKS baru yang berada dikantong-kantong masyarakat tempatan. Karena keberadaannya akan memicu pembelian lahan warga tempatan hingga kekawasan perumahan.

" Kalau lahan dan sudah tanah terjual kemana lagi anak cucu akan hidup dimasa datang,"ujarnya.

Perusahaan katanya jika sudah menguasai lahan dikampung akan membuat parit gajah dan pagar. Ini akan membuat pergerakan warga tidak bebas dan terkekang. Jika dulu warga bebas bergerak mencari kayu, berburu dan aktifitas lain jika sudah dikuasai perusahaan hanya tinggal mimpi.

" Ingat nasib cucu,"ujarnya sekali lagi.

Akan tetapi sarannya Pemkab juga harus punya program nyata pemberdayaan warga tempatan terutama yang pra sejahtera melalui redistribusi asset.

“ Melalui trans lokal atau relokasi ke daerah baru dan kawaaan pinggiran atau perbatasan di kampung atau kenegerian mereka. Bangunkan rumah sederhana dan lahan serta alat produksi,”katanya.

Katanya warga tempatan saat ini banyak terkosentrasi dikampung-kampung mereka saja. Padahal warga tempatan butuh kawasan baru untuk pemukiman, lahan perkebunan dan pertanian untuk memperluas kantong-kantong warga tempatan. ( nto )

 

Berita Lainnya

Index