TELUK KUANTAN - Banyak orang tua di Kuansing Riau khususnya warga tempatan cemas dengan nasib anak cucu kemenakan mereka dimasa mendatang.
Terutama anak cucu kemenakan yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian, perkebunan dan perikanan serta peternakan yang menggunakan lahan.
" Banyak orang tua yang cemas melihat kondisi sekarang dimana lahan sulit didapat, kalau membeli juga mahal sementara penduduk terus bertambah banyak,"ujar Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Sejahtera Kuansing, Junaidi Affandi belum lama ini.
Apalagi dikantong-kantong pemukiman warga tempatan. Hanya cukong dan orang kaya yang bisa membeli. Orang yang ekonomi pas-pasan jangankan membeli, lahan yang tersisa banyak terjual.
" Jadi yang miskin akan semakin miskin yang kaya akan semakin kaya,"ujarnya.
Ia meminta generasi muda Kuansing khususnya yang tidak punya lagi lahan dikampung meniru pola tradisi meneratak atau mencari lahan baru untuk berkebun dan membangun pemukiman.
" Para leluhur dan orang tua Kita dulu sering meneratak. Jadi lahan mereka bertambah kampung pun berkembang,"ujarnya.
Generasi muda tempatan jangan lengah dengan kondisi ini jika tidak ingin tersisih dikampung sendiri.
"Bangkitkan budaya meneratak ini..Kuasai lahan-lahan kosong yang masih ada. Bangun kelompok-kelompok meneratak ke lokasi baru,"ujarnya.
Ia meminta generasi muda tempatan mencontoh semangat orang dari luar yang datang jauh-jauh dari berbagai daerah ke Kuansing membuka lahan termasuk dihutan-hutan lindung.
Mereka rela menjual asset ditempat asal lalu membuka kebun dihutan.
" 3 atau 4 tahun mereka susah. Setelah itu mereka sejahtera hidup berkecukupan. Mampu membiayai pendidikan anak hingga ke perguruan tinggi. Mengapa tidak mereka membuka kebun 5-10 ha,"katanya.
Kalau tidak percaya ujarnya, berjalanlah ke perbatasan Kuansing dengan Kampar, Pelalawan, Inhu, Tebo Jambi dan Dharmasraya. Sebagian besar kawasan itu sudah dikuasai orang lain dari berbagai daerah dan cukong walaupun sebagian besar merupakan kawasan hutan lindung dan HPT.
“ Kalau tidak ada waktu kelapangan, pejabat, anggota DPRD, tokoh adat, ninik mamak dan cerdik pandai dapat melihat di aplikasi google maps dan citra statelit. Agar tahu perkembangan yang terjadi di hutan dan daerah-perbatasan Kuansing dengan daerah lain sebagai bahan menyusun perencanaan daerah,”katanya.
Sekarang orang dari berbagai daerah masuk ke kawasan hutan di kecamatan Hulu Kuantan, Singingi dan Singingi Hilir arah ke perbatasan dengan Sumbar mencari dan membeli lahan membangun kebun dan asset ekonomi lainmya
" Jadi seperti obat nyamuk orang tempatan dikelilingi orang dari berbagai daerah yang telah menguasai hutan danahan,"ujarnya.
Bahkan jika menyusuri jalan dari Tanjung Pauh Singingi Hilir sampai ke Pesikaian Cerenti lalu naik kearah sebelah kiri paling lahan yang masih dikuasai warga tempatan palolong 5 sampai 10 Km sisanya sudah dimiliki orang lain, cukong dan perusahaan.
Kedepan lahan yang masih dipunya warga tempatan akan semakin berkurang. Mengapa demikian katanya, karena orang lain yang sukses berkebun dan telah punya uang akan menambah asset mereka ke pusat kabuapten, kecamatan dan jalan-jalan utama membuka usaha perdagangan, jasa, kesehatan dan lainnya.
Ia mengingatkan jika lahan yang ada semakin banyak dimiliki orang lain maka peluang mencari lahan kedepan pupus sudah.
" Tidak mudah mendapatkan lahan yang telah dimiliki orang lain,"ujarnya mengingatkan.
Karena orang lain yang datang dan memiliki lahan lambat laun akan membentuk kawasan pemukiman permanen. Lama kelamaan akan menjadi desa.
Dengan perekonomian mereka yang semakin baik mereka akan mencari lahan-lahan baru termasuk milik warga tempatan.
" Sudah menjadi hukum alam siapa yang punya kekuatan ekonomi mereka yang akan menguasai,"ujarnya.
Melihat kondisi yang mencemaskan ini Ia juga meminta Pemda menjadi penggerak utama tradisi meneratak generasi muda Kuansing melalui program trans lokal.
" Karena ada dana APBD buatlah lokasi-lokasi trans lokal sebanyak-banyaknya dilokasi-lokasi yang masih memungkinlan agar luas kampung-kampung orang tempatan bertambah,"ujarnya.
Dalam kawasan trans lokal itu disertai dengan dai, orang yang mengerti adat istiadat, sarjana pertanian, guru dan lainnya.
“ Ajukan pelepasan hutan untuk trans lokal dalam rangka mempertahankan tanah dan hutan ulayat,”sarannya.
Ia juga mengingatkan kepada oknum perangkat desa dan ninik mamak yang menjual hutan dan lahan ke orang lain Ia minta untuk segera sadar demi anak cucu kedepan.
Percayalah katanya ketika orang lain masih sedikit mereka akan patuh. Tetapi ketika jumlah sudah berimbang bahkan sudah lebih tidak akan mau patuh lagi. Bahkan kadang mereka berbuat seenaknya karena merasa sudah kuat.
" Ini sudah banyak kejadian. Jangan menyesal kemudian tidak ada gunanya,"ujarnya mengingatkan.
Lebih baik katanya undang saudara-saudara warga tempatan dari desa lain yang miskin dan tidak punya lahan untuk berkebun dan bertani.
“ Para pemangku adat bersama anak cucu kemenakan konsolidasi, solidkan kebersamaan mempertahankan tanah ulayat. Meminta Pemkab, Pemprov dan pusat agar melaksanakan trans lokal,”pungkasnya.( nto)

