TELUK KUANTAN - 10 tahun mendatang biaya pembuatan jalur baru semakin besar. Ditaksir bisa mencapai Rp 300 juta. Biaya itu mulai dari mencari kayu sampai acara melayur jalur.
Hal itu disampaikan pemerhati pacu jalur Purwantomo.
Penyebab membengkaknya biaya itu kata Purwantomo, tidak terlepas dari lokasi kayu jalur yang semakin jauh.
" Jadi biaya membengkak tinggi untuk biaya mencari kayu dan menarik dari lokasi hingga ke desa,"katanya, Sabtu (13/9/25)
Saat ini sebutnya, desa-desa banyak mencari kayu dari kawasan desa Pangkalan Indarung kecamatan Singingi, hutan Bukit Tabandang dan HPT Sumpu.
Membengkaknya anggaran sebutnya, juga akibat dalam membawa kayu tersebut melalui kebun-kebun warga dan perusahaan. Otomatis akan ada penebangan pohon-pohon kelapa sawit.
" Kadang ada yang meminta ganti rugi. Belum lagi waktu yang bertambah, karena yang menghalang harus ditebang dulu. Ini menambah biaya "katanya.
Dirinya mendapat informasi ada sebuah desa yang menarik kayu jalur dengan menghabiskan dana Rp 180 juta. Karena mereka mendapat kayu dari kawasan Singingi yang jauh.
" Karena tantangan dan masalah dilapangan banyak. Lokasi kayu ditempat itu berada dijurang dan bukit,"ujarnya.
Aplagai kalau kayu nanti berasal dari Rimbang Baling, maka biaya juga akan bertambah.
Kalau kayu-kayu di Kuansing habis ujarnya jalan satu-satunya dari Sumbar. Otomatis biaya akan bertambah.
" Untuk itu pemerintah hutan yang ada di Kuansing,"sarannya.
Selain itu lanjutnya, pemerintah harus mendesak perusahaan membangun green belt. Kalau seluruh perusahaan menerapkannya cadangan kayu jalur akan bertambah.
Solusi lain katanya memperpanjang masa pakai jalur. Caranya Pemda membantu pembangunan rumah jalur. Sebab kandang jalur yang tidak bagus menjadi salah satu penyebab kerusakan jalur.
" Atap kandang jalur bocor dapat mempercepat kerusakan jalur. Apalagi yang tidak punya kandang jalur,"pungkasnya. ( ms )