Penggunaan Dialek dan Kosa Kata Bahasa Kenegerian Teluk Kuantan Ada yang Mulai Tergerus

Sabtu, 31 Mei 2025 | 20:12:45 WIB
Epi Martison

TELUK KUANTAN - Penggunaan dialek dan kosa kata bahasa Kenegerian Teluk Kuantan dalam praktek sehari-hari sedikit banyak mulai tergerus terutama pada generasi mudanya.

Hal itu disampaikan budayawan dan seniman nasional asal Kuansing, Epi Martison, Sabtu (31/5/25)

Seperti pengucapan iyo pre ii dan nua diujung kalimat yang dulu jamak terdengar sekarang berganti ma.

" Iyo pre ii dan iyo nuah diganti dengan iyo ma,"ujarnya.

Padahal penggunaan Iyo pre ii dan iyo nuah untuk maksud yang berbeda.

" Iyo pre i dari tidak tahu jadi tahui. Iyo nua bermakna menjelaskan,"terangnya.

Begjtu juga dengan pemakaian dialek pek sekarang banyak memakai kek.

" Contoh, dulu diucap Pek urang di,  kini berganti kek urang di atau samo urang di,"ujarnya.

Hal yang sama pada penggunaan kosa kata. Seperti kosa kata mangkuar atau mencangkul dan orun.

" Dulu diucap mangkuar sekarang ncangkual. Orun sekarang banyak diganti harum,"ujar putra Kenegerian Teluk Kuantan ini.

Menurutnya pergeseran itu terjadi pada hampir setiap bahasa diseluruh kenegerian. Namun yang terasa kuat di Teluk Kuantan. Hal ini terjadi ketika Teluk Kuantan menjadi ibukota kabupaten. Orang dari setiap kecamatan dan kenegerian di Kuansing yang memiliki beragam aksen, dialek dan kosa kata turut mempengaruhinya.

" Belum lagi orang dari luar Kuansing,"katanya.

Selain itu katanya, sekarang keluarga di kampung-kampug, orang-orang sudah jarang dan bahkan tidak lagi berbahasa itu. Karena sudah ada bahasa pengganti yang baru.

" Dengan bahasa yang baru itu mereka menjadi bangga dan dianggap mereka orang kini yang modern, karena  itu mereka senang dan suka menggunakan bahasa pengganti yang baru itu sebagai bahasa orang modern.

" Padahal bahasa kampung itu unik antik, spesifik artistik dan estetik,"ujarnya.

Beberapa contoh kosa kata lokal yang unik ungkapnya pak ari, ntariko, balako, podar, sogar, silik, kerek, puar, hewar, rungak, songiar oliar, tesioliar, tejerombok, tesunu, tesulo, tekambu.

Selanjutnya ungkap Epi Martison, tidak ada program-program  rutin yang kreatif inovatif yang edukatif yang dapat memancing orang-orang kampung untuk selalu menghadirkan bahasa Kita yang bisa kian tergerus jika tidak dilestarikan,"ujarnya.

Padahal Kuansing sendiri kaya akan dialek dan kosa kata. 

" Kekayaan bahasa Kuansing tiap sudut berbeda tetapi tidak ada yang menuliskannya dalam sebuah buku,"ungkapnya.

Pemda, lembaga adat disetiap kenegerian dan kampus harus turut  serta membukukannya. Karena pelestarian bahasa daerah sama penting dengan pembangunan fisik.

" Karena bahasa daerah identitas sebuah daerah,"ujarnya.

Dengan demikian kedepan generasi muda dapat terus belajar dan mengingat bahasa asal usul mereka.

Ia sendiri dalam bertutur dengan sesama orang Kuansing dan berdialog di WAG Kuansing senantiasa menggunakan dialeg dan kosa kata lama.

Hal ini salah satu kiatnya untuk mempertahankan bahasa kampungnya. ( nto )

Terkini