Lamtarodi bergelar Datuak Sinaro Nan Putiah

Lamtahodi, Pemimpin Perang Manggis di Kuansing Yang Dipenjara Belanda di Halmahera

Sabtu,09 Agustus 2019 - 03:15:00 WIB
Share Tweet Google +
Loading...

TELUK KUANTAN -- Putra-putri Kuantan Singingi ( Kuansing), Riau juga ikut menyumbang darah dan nyawa demi kemerdekaan negeri tercinta Indonesia. Mereka terlibat pertempuran langsung dengan Belanda disejumlah medan pertempuran mematikan didaerah ini.

Salah satunya Lamtahodi bergelar Datuak Sinaro nan Putiah. Bahkan dirinya dibuang dan dipenjara Belanda mulai di Tanjungpinang hingga ke Halmahera Maluku hingga wafat disana, jauh dari negeri yang dibelanya habis-habisan dan orang-orang yang dicintainya. 

Kisah heroik pejuang asal Kuansing ini mengusir penjajah dari bumi pertiwi ini mendapat perhatian dari pemerintah provinsi Riau. Lamtahodi mendapat penghargaan dari Gubernur Riau, Syamsuar sebagai salah seorang pejuang provinsi Riau. Pemberian penghargaan diberikan saat paripurna hari ulang tahun ( HUT) provinsi Riau ke-62 di DPRD Riau, Jumat ( 9/8/2019).

Selain Lamtahodi yang menerima penghargaan serupa juga diberikan kepada putra terbaik Riau lainnya seperti Kapten Mansurdi, Tengku Muhammad Buang Asmara, Mahmud Marzuki, Ismail Suko, Syekh Abdul Wahab Rokan, HM Wasmad Ras, Gong Endoet, Wan Idris bin Abdul Kasim , Raja Abdul Rahman, Himron Saheman, Tengku Siad Ja'afar.

Lalu siapa sosok Lamtahodi pejuang asal negeri pacu jalur ini. Berikut sosoknya dikutip dari tulisan Professor Suwardi MS. Lamtahodi gelar Datuk Sinaro berjuang untuk mempertahankan negeri Kuantan dari penjajahan Belanda yang telah masuk ke Kuantan. Ia pernah menjadi orang rantai di Tambang Batubara Sawahlunto.

Lamtahodi semasa dengan Datuk Tabano dari Kampar. Setelah menjadi orang rantai, ia bersama kawannya Datuk Tabano berhasil membebaskan diri pada tahun 1898. Datuk Tabano kembali ke Kampar dan Lamtahodi kembali ke Kuantan.

Penjajahan Belanda di Kuantan di tahun 1905 membuat raja dan pemuka adat kehilangan kewenangannya dibidang pemerintahan. Kedatangan Belanda ke Kuantan dihadapi dengan berbagai bentuk perlawanan oleh masyarakat seperti Perang Manggis.

Di sinilah peran Lamtahodi. Bersama-sama dengan pemimpin lainnya, mereka berperang melawan Belanda Perang Manggis. Pada masa kritis ini, rakyat terpaksa bertahan pada benteng Pintu Gobang di Kari. Namun masyarakat Kuantan kalah karena keunggulan Belanda dalam bidang persenjataan dan benteng tersebut akhirnya dapat direbut Belanda.

Belanda berhasil menangkap Lamtahodi dan segera memenjarakannya di Tanjung Pinang pada tahun 1905-1908. Setelah di penjara di Tanjung Pinang, Lamtahodi dibuang ke penjara di Halmahera sampai meninggal di Halmahera. Lamtahodi telah hidup dalam pembuangan yang cukup lama di Halmahera, sehingga ia memiliki keluarga dan keturunan di sana.

Sementara itu, akibat kekalahan dalam perang melawan Belanda, pihak Belanda memaksakan Korte Verklaring yang isinya memaksa raja dan pemuka adat menyetujui bahwa mereka tidak lagi mempunyai kewenangan dan hanya menjadi pembantu kontroleur (demang) Belanda di Teluk Kuantan.

Korte Verklaring tersebut terpaksa ditandatangani Raja Hasan pada tanggal 21 Oktober 1905, kemudian pada tahun 1907 beliau mengkat. Raja Hasan kemudian digantikan oleh Raja Begab yang bergelar Tuanku Sutan. Pada 14 Februari 1907 Raja Begab juga terpaksa menandatangani berklaring tersebut. ( isa )

TULIS KOMENTAR

Loading...

BERITA TERKAIT

Politik

Golkar Kembali Kuasai DPRD Kuansing

Minggu,27 April 2019
Politik

Warga Rohul Deklarasi Dukung AMAN

Sabtu,22 November 2013