Portal Online Kebanggaan Masyarakat Kuansing

Hadapi Musim Pacu Jalur, Warga Masih Menjerit Akibat Kondisi Ekonomi yang Tak Kunjung Membaik

Senin,25 Juli 2016 | 05:15:00   Dibaca: 1206 kali
Hadapi Musim Pacu Jalur, Warga Masih Menjerit Akibat Kondisi Ekonomi yang Tak Kunjung Membaik
Ket Foto : Wabup Kuansing saat membuka pacu jalur kecamatan rayon I. ( ktc)

BASERAH - Gendrang helat Pacu Jalur tahun 2016 di Kuansing telah ditabuh. Setelah Pacu Jalur ajang uji coba sukses digelar di Gunung Toar pekan lalu, Senin siang(25/7/2016) Wakil Bupati Kuansing, H.Halim resmi membuka Pacu Jalur rayon I di gelanggang Pacu Jalur Topian Lubuak Sobae Baserah.

Helat rakyat tingkat kecamatan ini dinakhodai oleh kecamatan Kuantan Hilir Seberang. Tahun ini juga merupakan helat terbesar selama pagelaran adu cepat di tepian mandi orang Pasar Usang Baserah tersebut dengan jumlah Jalur sebanyak 96 Jalur atau 48 aduan.
    Camat Kuantan Hilir Seberang Zulmaswan,S.Pd disela-sela kesibukanya kepada Wartawan, Minggu (24/7/20916 ) siang  di Kampung Baru Sentajo berharap, iven wisata ini mendapat dukungan penuh dari seluruh elemen masyarakat terutama untuk menjaga keamanan. Kepada anak pacu (atlit dayung), mantan Sekcam tersebut meminta untuk menjaga komitmen bersama yaitu sama-sama menjunjung sportifitas.
     Ditengah kemeriahan musim Pacu Jalur tahun ini, sejumlah masyarakat mengaku miris melihat kondisi sosial ekonomi masyarakat Kuansing saat ini. Pesta akbar tahunan warga Kuansing yang akan berlangsung hingga akhir 28 Agustus 2016 tersebut, tidak dibarengi dengan kondisi ekonomi yang menggembirakan. Cuaca buruk yang datang lebih awal dan sangat tidak bersahabat ini, membuat kondisi ekonomi masyarakat Kuansing kian hari kian memburuk. Penduduk Negeri Pacu Jalur dengan proporsi 75% petani karet itu, sebenarnya sangat menantikan perbaikan harga karet.
     Betapa tidak, kenyataannya harga karet terkini sudah pecah dari Rp 5.000/kg. Bahkan disebagian wilayah di Kuansing harga karet sudah anjlok ke level Rp 4.800/kg, padahal bulan lalu sempat naikbke angka Rp 7.000/kg meski hanya bertahan sepekan. Akibat harga komoditi andalan yang terus merangkak tersebut, membuat kehidupan petani di Kuansing kian.morat marit. Tak hanya itu, kondisi sungai Kuantan yang terus berkecai akibat aktifitas Peti sejak 4 tahun belakangan ini, juga kian memperburuk sendi-sendi kehidupan petani yang nyambi menjadi nelayan.
     Setiap hari, ribuan nelayan yang bergantung pada sungai Kuantan terpaksa harus mengurut dada danmenjerit melihat para penambang emas ilegal beraksi tanpa tersentuh penertiban. Kehadiran pemimpin baru ditangan dingin Mursini-Halim, sangat diharapkan mampu menghentikan hiruk pikuk mesin dompeng dan lebih memperioritaskan perbaikan kehidupan nelayan kampung yang hidup disejulur sungai Kuantan. Tersebab sejak menggilanya aktifitas Peti, hasil tangkapan nelayan di Kuansing kian hari kian memburuk dan memprihatinkan. Hal itu seiring makin menghilangnya sejumlah spesies ikan karena diduga tak sanggup lagi bertahan hidup di air yang terus tercemar dan gemuruhnya mesin dompeng.
" Ikan Kuantan banyak yang hilang akibat Peti, padahal dapat menjadi alternatif menambah pendapatan warga, mnimal untuk lauk pauk sendiri,"ujar Pendi, warga yang sering mencari ikan di sungai Kuantan.
" Jika Peti dapat dihentikan, diyakini populasi ikan di sungai Kuantan akan berangsur normal,"pungkasnya.( pen )


Baca Berita Lainnya
Tulis Komentar
comments powered by Disqus
.