Portal Online Kebanggaan Masyarakat Kuansing
Kisah Perang Kemerdekaan di Kuansing

Cegah Duduki Teluk Kuantan, Pejuang Kuansing Tahan Belanda Selama Tiga Bulan di Cerenti

Rabu,12 November 2014 | 05:52:00   Dibaca: 3034 kali
Cegah Duduki Teluk Kuantan, Pejuang Kuansing Tahan Belanda Selama Tiga Bulan di Cerenti
Ket Foto : Idris Taib sang veteran dirumah kediamannya. ( ktc )
 

TELUK KUANTAN - Putra-putri terbaik Indonesia asal Kuantan Singingi ( Kuansing ) juga mendermakan nyawa dan pengorbanan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Sejumlah pertempuran heroik mereka jalani melawan tentara Belanda disejumlah lokasi pertempuran di Kuansing saat itu.

Seperti yang dituturkan Idris Taib (87), di rumah kediamannya di Desa Pulau Ingu, Kecamatan Benai, Selasa (11/11/2014 ). Ia harus mengalami getirnya medan pertempuran saat baru berusia 18 tahun. Idris Taiob kelahiran Pangean, 28 Desember 1927 saat berperang berada dibawah Komando Wedana Teluk Kuantan H Abdoerrauf.

Saat itu Ia bersama pejuang lain asal Teluk Kuantan, Lubuk Jambi, Simandolak, Pangean dan Cerenti harus masuk dan keluar hutan untuk menempuh perang Gerilya melawan Belanda. Pertempuran mereka jalani saat  pasukan Belanda mulai  masuk ke wilayah Kuansing pada tanggal 5 Januari 1949.

Usai mendarat di Air Molek, Inhu seterusnya pasukan Belanda bergerak menuju Teluk Kuantan lewat jalur darat. Mendengar gerak maju pasukan Belanda menuju Kuansing, atas perintah Wedana Abdoer Rauf mereka diminta menghadang gerak maju pasukan Belanda yang sudah sampai di Cerenti agar tidak masuk ke Teluk Kuantan.

Sebelum melakukan perang gerilya menghadang ekspansi pasukan Belanda di Cerenti, Idris Taib dan pejuang lainnya menyusun kekuatan di Pangean. Saat itu, katanya sejumlah daerah di Pangean menjadi pangkalan gerilya para prajurit yang tergabung dalam Barisan Keamanan Rakyat (BKR) di Kuansing..

Seluruh prajurit BKR Kuansing dari Lubuk Jambi, Teluk Kuantan, Simandolak, Pangean dan dari daerah lainnya bergerak menuju Cerenti untuk menghalangi pasukan Belanda ini masuk ke Teluk Kuantan. Berbekal persenjataan bambu runcing dan senjata tanpa peluru, senjata peninggalan tentara Jepang, Idris dan pejuang Kuansing lainnya menahan gempuran pasukan Belanda dengan pola gerilya di pagi hari

Selain  tembak menembak dengan pasukan Belanda, mereka juga menghalangi gerak maju pasukan Belanda dengan menumbangkan satu persatu pohon-pohon besar yang ada di sepanjang jalan dari Cerenti menuju Teluk Kuantan yang akan lintasi pasukan Belanda. Taktik ini mampu menahan gerak maju pasukan Belanda menuju Teluk Kuantan selama tiga bulan.

"Tiga bulan kami bergerilya di wilayah Cerenti, terjadi peperangan dengan Belanda. Walau gagal memasuki Teluk Kuantan, namun pasukan Belanda terus menyusun kekuatan sambil bertahan di Cerenti," kata Idris dengan semangat.

Pasukan Belanda tertahan di Cerenti pada Januari hingga Maret. Namun selama bulan April dan Mei mereka melakukan konsolidasi kekuatan. Selain penambahan pasukan, mereka mengubah jalur masuk ke Teluk Kuantan dari jalur darat melalui jalu sungai Kuantan. Akhirnya Belanda berhasil masuk ke Teluk Kuantan sekitar bulan Juni 1949.

Sebelum berhasil menguasai Teluk Kuantan, ujar Idris Taib, sempat terjadi peperangan di pangkalan prajurit BKR, di Pulau Rengas Pangean. Pasukan Belanda yang dipersenjatai lengkap melancarkan tembakan ke arah para pejuang Wedana Teluk Kuantan.

Saat Belanda telah menguasai Teluk Kuantan, Idris Taib yang tadinya sebagai prajurit tempur, beralih peran menjadi prajurit dengan tugas intelijen. Saat itu sejumlah pasukan BKR yang pulang ke daerah usai merebut kemerdekaan membentuk barisan perjuangan dengan masyarakat sipil, kesatuan ini dinamakan Kesatuan Pasukan Truk 1, 2, 3 dan 4. "Saya ditugaskan menjadi intel di Pasukan Truk Empat," katanya.

 

 Tidak banyak yang dilakukan Kesatuan Pasukan Truk ini untuk melawan kekuatan Belanda, karena keterbatasan alat perang. "Kalaupun ada senjata, itupun tidak ada pelurunya. Ya, hanya bambu runcing yang kita andalkan," akunya.

Namun karena tekad hanya ingin merdeka. Idris cs nekad dan tak pandang resiko dalam berjuang. "Setelah diduduki Teluk Kuantan, pasukan kita lari ke hutan, seperti ke Gunung Kesiangan, Lubuk Jambi dan Bergabung dengan pasukan gabungan mobil truk, 1, 2, 3 dan 4," ujarnya lagi.

Dari Juni hingga 27 Desember Belanda menduduki Teluk Kuantan. Belanda kemudian hengkang dari Kuansing karena tercapainya ada perjanjian damai antara Indonesia dengan Belanda melalui Konferensi meja Bundar. "Memang pada saat Belanda sudah menguasai Teluk Kuantan situasinya menegangkan, masyarakat kita banyak yang ngungsi," katanya.( mad )


Baca Berita Lainnya
Tulis Komentar
comments powered by Disqus
.