Lomba dayung. ( grc )

Prestasi Dayung Riau Berawal dari Pacu Jalur

Jumat,22 November 2013 - 04:38:00 WIB
Share Tweet Google +
Loading...


PEKANBARU - Tidak perlu diragukan lagi, cabang dayung merupakan olahraga andalan Provinsi Riau di berbagai iven baik nasional maupun internasional. Namun tentu saja prestasi itu tidak datang dengan sendirinya. Banyakkah yang tahu dari dan bagaimana prestasi itu datang?


Tradisi Pacu Jalur yang menjadi agenda rutin di Kabupaten Kuansing, Kabupaten Kuansing adalah satu dari sekian banyaknya bagaimana prestasi itu muncul. Kegiatan rutin yang sudah menjadi kalender resmi Kabupaten Kuansing tersebut tentu saja menarik minat dan 'memaksa' para pemuda-pemudi untuk berlomba menguasai cara menyusuri jalur dengan Pacu Jalur.


"Semuanya bermula dari situ. Menjadi agenda tahunan membuat banyak peminat yang mayoritas masyarakat tempatan untuk berlomba menjadi yang terbaik pada kegiatan tradisional tersebut, hingga akhirnya bermunculan pedayung-pedayung andalan yang ditarik dan dibina oleh pelatih-pelatih terbaik," kata Plt Ketua Umum KONI Riau, Yuherman Yusuf saat berbincang-bincang dengan GoRiau.com, Jumat (22/11/2013).


Ya, cabang dayung Riau sudah mampu berbicara baik di tingkat nasional dan internasional. Tidak salah jika cabang olahraga ini masuk dalam daftar teratas cabang andalan Riau di buku prestasi KONI Riau. "Kita hampir tidak pernah kekurangan atlet untuk masuk dalam pembinaan," kata Yuherman.


Buktinya, pedayung-pedayung yang saat ini dibesut Amin Zebo sudah memiliki tim hingga lapis keenam. Bahkan pada Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) XII di Jakarta, September 2013 lalu, rata-rata atlet lapis keenam yang diturunkan Dispora Riau.


Pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII 2012, dayung Riau berhasil keluar sebagai juara umum dengan mengantongi tujuh medali emas, lima perak dan delapan perunggu. Menyusul di peringkat kedua Tim Kalimantan Tengah dengan raihan enam medali emas, tiga perak dan dua perunggu. Sementara peringkat ketiga ditempati Papua dengan enam medali emas, satu perak dan empat perunggu.


Namun diakui Yuherman, keberadaan pelatih dan kekuatan organisasi yang membidangi juga tidak bisa dipisahkan dari prestasi dayung yang tidak pernah pudar. "Semuanya tentu diutamakan fungsi seorang pelatih, jika tidak ada pelatih tentu tidak akan lahir atlet-atlet yang terprogram sebagai peringkat nasional dan internasional," pungkas Yuherman.( sumber : goriau.com )

TULIS KOMENTAR

Loading...

BERITA TERKAIT