Saat Pekerja Bertaruh Nyawa Memperindah Air Terjun Batang Koban

Rabu,09 Oktober 2018 - 10:11:00 WIB

Para pekerja memikul pasir ke tingkat lima

TELUK KUANTAN – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan ( Parbud ) Kuansing melalui dana alokasi khusus ( DAK ) tengah membenahi insfrastruktur penunjang dikawasan objek wisata air terjun Batang Koban desa Lubuk Ambacang kecamatan Hulu Kuantan.

Tahun anggaran 2018 ini mereka membangun gazebo dan kamar ganti serta WC. Ada empat belas unit gazebo atau tempat duduk pengunjung dan WC yang sedang dibangun dikawasan objek wisata ini. Tujuannya tak lain menambah kenyamanan pengunjung jika bertandang kesini.

Namun perjuangan membenahi insfrastuktur disini tidaklah mudah. Butuh perjuangan ekstra dan taruhan nyawa para pekerja terutama membawa material kelokasi.

Semua material proyek mulai dari kerikil, Sirtu, semen, atap, kayu dan konzen harus didrop melalui jalur air menggunakan pompong dari Lubuk Ambacang kelokasi proyek.

Sesampai dilokasi air terjun, tantangan baru menghadang

 Seluruh material tersebut harus dipikul manusia agar sampai kelokasi pembangunan Gazebo dan WC dari air terjun tingkat kesatu sampai ketingkat kelima.

“ Tantangan mengerjakan proyek di air terjun Batang Koban sangat berat, selama memborong baru kali ini tantangan yang paling sulit dijumpai,”kata Direktur CV Bintang Laksamana , Gusdi Antoni.

Mendroping material ke lokasi satu-satunya akses lewat jalur air. Dari pinggir air terjun hingga keatas dilanjutkan dengan memiklul oleh tukang.

“ Kita harus merintis jalan altenatif yang pendek dan aman agar saat tukang memikul material tidak terjatuh dan membahayakan keselamatan nyawa mereka, tanah disana juga licin karena berlumut ditambah hari hujan, terpeleset saat membawa material nyawa bisa melayang karena terhantam batu-batu cadas keras, yang menunggu dibawah,”kata pria yang akrab disapa datuk tersebut.

Yang paling berat membawa konsen ke tingkat kedua hingga kelima karena juga harus dibawa dengan dipikul juga. Menggunakan tali tidak bisa karena banyak pohon kayu besar.

Semua tantangan ini membuat biaya angkut material menjadi membengkak tinggi. Pasir contohnya, harga normal penawaran 180 ribu, disana sampai dilokasi menjadi Rp.400 ribu, membengkak karena ongkos angkut yang naik. Begitu juga material naik dua kali lipat. Benar-benar diluar perkiraan. Tak banyak orang yang samggup mengantar material hingga ketingkat lima.

" Tapi yang paling membuat was-was kalau pekerja terjatuh saat membawa material keatas disisi tebing. Pasir, kerikil, semen semua harus dimasukkan dalam karung lalu diangkat dipungggung, terpeleset sedikit bisa berbahaya,"ceritanya.

Menurutnya, mengerjakan proyek disini tidak lagi berbicara keuntungan, namun kondite ( nama baik ) perusahaan saja. Mungkin terdengar klise tetapi kalau orang melihat mereka bekerja langsung pasti akan merasakan kesulitan mereka.

“ Kalau berbicara untung ya jauh, kepuasan yang diterima ya pengunjung dapat menikmati sarana dan prasarana yang sudah dibangun, dan makin ramai hendaknya kedepan sehingga membawa dampak positif bagi masyarakat disana,”kata Gusdi. ( mad )