Kelangkaan Solar Akibat Jatah Berkurang

Sabtu,01 Maret 2013 - 07:12:00 WIB

Antrean truk untuk mengisi solar di SPBU Sungai Jering Teluk Kuantan. ( isa )

TELUK KUANTAN - Kelangkaan solar di SPBU yang mengakibatkan antrian
panjang kenderaan bukan disebabkan kelangkaan, penjualan kepada eceran
semata, pembelian oleh pekerja dompeng untuk mencari emas, namun
disebabkan Pertamina mengurangi jatah solar bagi setiap daerah
termasuk Riau.
" Hal ini akibat keluarnya Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya
Mineral Nomor 1 Tahun 2013 tentang pengaturan BBM bersubsidi untuk
kalangan tertentu,"ujar Kadis Koperasi Industri dan Perdagangan
Kuansing, Tarmis, S.Pd, MM yang dikonfirmasi terkait hal ini, Jumat (
1/3 ) siang.
Menurutnya akibat pengurangan jatah solar ini, semua daerah di Riau
mendapat permasalahan yang sama. Buktinya hasil cros check ke
pengusaha SPBU diseluruh Kuansing, stok solar di Depo Pertaminan Dumai
sedang kosong. Padahal pengusaha sudah membayar deposit, namun karena
minyak solar tidak ada, tidak dikirim ke daerah.
" Kalau BBM kan pengusaha SPBU harus membayar deposit terlebih dahulu,
mereka sudah bayar tapi belum juga dapat, itu karena stok solar memang
tidak ada akibat lahirnya aturan baru itu. Kalau masalah aturan tentu
saja kewenangan pusat, apalagi bagi Migas,"ujarnya.
Buktinya ujar Tarmis, hari ini ( kemaren ) dirinya menugaskan dua
orang staf mengecek ke dua SPBU tentang stok solar, dari hasil cros
chek itu ternyata solar sudah tidak masuk selama 3 hari belakangan
sehingga jika solar datang langsung menimbulkan antrean.
Karena itu walaupun jatah masing-masing SPBU setiap hari sebesar 20
ton atau 20 ribu kilo liter namun karena stok tidak setiap hari
datang, maka stok di SPBU sering langlah.
" Jadi Kami tegaskan bukan kelangkaan tapi karena stok memang
berkurang. Kalau langka kan stok setiap hari datang namun di SPBU
kosong,"ujarnya.
Menindaklanjuti hal ini, Tarmis mengharapkan pengelola SPBU mentaati
aturan yang ada, termasuk kalangan industri. Untuk SPBU hendaknya dari
20 ton jatah , 10 ton untuk pedagang eceran sisanya 10 ton untuk
kendearaan disiang hari. Sebab kelangkaan solar juga akan berdampak
pada biaya barang dan jasa yang bisa memberatkan warga masyarakat.
Bagi kalangan dunia industri ujarnya, mereka diharapkan tidak membeli
solar di SPBU yang merupakan BBM bersubsidi dari pemerintah yang
digunakan untuk masyarakat agar masyarakat tidak terbebani akibat
kenaikan BB; oleh pemerintah.
" Kalau semua fihak patuh Saya kira tidak terlalu bermasalah. Untuk
Kita himbau separuh stok dijual malam hari dan sisanya pagi hari,
kesepakatan itu dibuat pada zaman Kadis Kopindag dijabat Raja Aswar
dan DPRD,"ujarnya.
Sementara itu sebelumnya Anggota DPRD Kuansing, Andi Nurbai
mengusulkan mengatasi kelangkaan Solar ditengah masyarakat dibentuk
SPBU khusus untuk kalangan industri, sehingga mereka tidak mengurangi
jatah warga masyarakat. " BBM untuk industri kan harganya tidak sama
dengan BBM bersubsidi, namun aparat tentu saja harus ketat dan tegas
dalam menegakkan aturan ini,"pungkasnya. ( isa  )