Sulit Cari Pekerjaan di Kuansing, Sarjana Pun Ada Yang Jadi Tukang Cuci Kenderaan

Rabu,11 Juli 2018 - 01:14:00 WIB

ilustrasi

TELUK KUANTAN - Setiap tahun ribuan anak muda Kuansing lulus dari pendidikan SLTA sederajat dan perguruan tinggi. Ironisnya  lapangan kerja tidak tersedia di Kuansing dan akibatnya pengangguran membengkak.

Padahal harapan siswa dan mahasiswa yang baru lulus mereka dapat bekerja agar dapat memenuhi harapan dan membanggakan orang tua yang sudah susah payah membantung tulang mencari biaya pendidikan.

" Akibat lapangan kerja tidak,  Saya temui dilapangan ada sarjana yang bekerja di cucian kenderaan, sebagai tukang cuci. Ini ironis sekali walaupun Kita harus apresiasi orang-oramg seperti ini karena mau bekerja tanpa ada rasa gengsi, tetapi ini potret susahnya lapangan pekerjaan ditempat Kita,"ujar anggota Komisi B DPRD Kuansing yang juga membidangi ketenagakerjaan, Rustam Ependi belum lama ini.

" Saya perkirakan ribuan usia angkatan kerja di Kuansing tidak ada pekerjaan. Setiap tahun ada yang lulus sekolah dan kuliah. Karena di Kuansing minim lapangan kerja banyak anak-anak Kuansing selepas sekolah dan kuliah bertahan diluar daerah,"ujarnya.

Mau pulang selepas kuliah dan sekolah tanpa bekerja atau dalam kondisi menganggur kata Rustam tentu bisa menambah beban orang tua. Padahal  orang tua menguliahkan anak agar mudah dapat pekerjaan dan bekerja ditempat yang lebih baik dibanding mereka.

" Ya sama tahulah kalau anak sudah  lulus kuliah tapi belum bekerja banyak cakap yang terdengar. Saya apresiasi anak-anak muda Kuansing yang bertahan dengan kondisi seadanya diluar untuk berjuang mendapat pekerjaan,""ujarnya.

" Saya dapat membayangkan perasaan orang tua yang melihat anaknya masih menganggur setelah lulus kuliah dan sekolah. Membayangkan perasaan anak-anak Kuansing yang telah lulus tetapi belum juga bekerja untuk masa depan dan membanggakan orang tua mereka. Pasti sedih dan gundah hati mereka,"tambahnya.

Menurutnya persoalan ini harus menjadi perhatian Pemkab Kuasimg dan perusahaan serta dunia usaha di Kuansing.

" Apalagi untuk perusahaan, Pemkab Kuansing harus menekan perusahaan agar memprioritaskan  tenaga kerja lokal seperti diperusahaan perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman industri. Karena dua sektor ini yang masih eksis termasuk juga peluang usaha sebagai rekanan perusahan. Harus tegas karena Pemkab memiliki kewenangan dan kekuatan memberi tekanan pada perusahaan, dewan akan memberi dukungan,karena pengangguran semakin besar,"ujarnya.

" Disaat pengangguran di Kuansing banyak dan dunia usaha lesu jangan sampai perusahaan mendatangkan tenaga kerja dari.luar dan kontraktor luar,"ujarnya menambahkan.

Usaha lainya bebernya dengan membuka dan mempermudah investasi sektor hilir untuk mengelola hasil perkebunan kelapa sawit dan karet serta pertambangan. Menurutnya sudah saatnya pemerintah daerah melakukan aksi nyata mengajak investor membangun industri yang mengelola produk CPO ke produk barang seperti pabrik minyak goreng dan turunan lainnya serta produk hilir karet seperti pabrik ban.

" Kalau investasi masuk maka peluang kerja dan usaha akan terbuka,"paparnya.

Solusi lain katanya angkatan kerja Kuansing yang telah lulus kuliah dan sekolah dimotivasi untuk terjun menggeluti dunia usaha akan tetapi dengan kondisi ekonomi lesu tentu sulit sekali.

Ditambah lagi lanjutnya bakat masyarakat terjun kedunia usaha masih belum besar melainkan masih ingin bekerja. Namun demkian secara perlahan jiwa usahawan, mengelola usaha perkebunan, perikanan, pertambangan dan jasa harus diperkenal dan didorong secara terus menerus kepada mereka sejak sekarang. Mereka harus diback dengan program yang nyata baik pendanaan maupun pelatihan menjadi usahwan yang handal dan petani yang sukses.

" Ekonomi di Teluk Kuantan saja terlihat lesu, ini juga harus menjadi perhatian Pemkab dalam jangka pendek bagaimana ekonomi kembali bergairah. Diskusikan dengan semua komponen bagaimana mengatasi kelesuan ekonomi ini, jangan dipikir sendiri. Dengan musyawarah akan banyak masukan dari berbagai elemen,"ujarmya. 

Ekonomi yang lesu memang terlihat dari banyaknya kedai seperti kedai makanan dan minuman, kelontong, barang harian yang tutup dan sepi karena jumlah pengunjung yang turun. Begitu juga keberadaan rumah-rumah kos yang kosong ditinggal penyewa karena kembali ke kampung halaman  atau rumah orang tua karena tidak ada lagi pekerjaan terutama di Teluk Kuantan. ( isa )